STRATEGI LEMBAGA ADAT PANGLIMA LAOT DALAM MENJAGA KELESTARIAN LINGKUNGAN MARITIM PESISIR YANG BERKELANJUTAN DI KABUPATEN PIDIE

Rahcmad Munazir, Zulfan Yusuf, Mujiburrahman Mujiburrahman, Muhammad Nur

Abstract


Penelitian ini merupakan penelitian yang melihat aspek kearifan lokal sebagai modal dalam
pembangunan yang berkelanjutan, baik pembangunan dari aspek ekonomi, sosial, budaya,
pendidikan dan aspek lainnya. Fokus persoalan penelitian ini adalah pembangunan pesisir yang
berlandaskan pada kearifan lokal pesisir itu sendiri. Di mana kearifan diposisikan sebagai potensi
pembangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Sehingga penelitian ini melihat
bagaimana strategi panglima laot sebagai lembaga adat laot atau kearifan lokal yang merupakan
warisan budaya maritim yang berkembang di pesisir Aceh dalam mewujudkan pesisir yang lestari
dan berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Pidie Provinsi Aceh, di mana Kabupaten
Pidie merupakan salah satu kabupten pesisir yang ada di Aceh. Secara batas wilayah, Sebelah
Utara kabupaten ini berbatas dengan Selat Malaka, Sebelah Selatan dengan Kabupaten Aceh
Barat dan Aceh Jaya, sebelah Timur dengan Kabupaten Pidie Jaya dan sebelah Barat berbatas
dengan Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini mengunakan metode penelitian kualitatif dan
pendekatan multi disiplin ilmu. Pedekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
sosiologi, antropologi dan sejarah. Adanya pendekatan tiga disiplin ilmu tersebut, dapat
memberikan gambaran yang menyeluruh terhadap panglima laot, sehingga dapat terbangun
konsep dalam menjawab masalah penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa,
panglima laot sebagai ketua adat memiliki peran tersendiri dalam mengatur nelayan sebagai
masyarakat adat pesisir. Keberadaan panglima laot cukup strategis dalam membatasi perilaku
masyarakat nelayan, khususnya perilaku yang merusak lingkungan pesisir. Untuk membatasi
perilaku tersebut, panglima laot melakukan dengan pendekatan adat sebagai strategi dalam
mencegah kerusakan lingkungan pesisir yang disebabkan oleh perilaku nelayan. Strategi
pendekatan adat tersebut yang digunakan panglima laot sebagai pemimpin adat dalam mendorong
kelestarian lingkungan maritim pesisir yang berkelanjutan di Kabupaten Pidie.


Full Text:

PDF

References


Anonim. (1973). Monografi perikanan Daerah Istimewa Aceh”. Banda Aceh:Dinas Perikanan Aceh. Anonim. Pengertian Kearifan Lokal. (http: //

www.academia.Edu/4145765/Pengertian_kearifan_lokal., dikunjungi

Agustus 2017).

Abdullah, M. Adli, et al. (2006). Selama kearifan adalah kekayaan: Eksitensi Panglima Laot di Aceh”. Banda Aceh:Lembaga Hukom Adat Laot

Aceh dan Yayasan KEHATI.

Bustamam-Ahmad, Kamaruzzaman, et, al.(2010). Kearifan Lokal di Laut Aceh.Banda Aceh: Center Study of Sea Customery law and Fisheries Policy Syiah Kuala University and Syiah Kuala University Press.

Gumilar, Rusliwa Somantri, “Memahami Metode Kualitatif” Jurnal Makara,

Sosial Humaniora Volume 9 Nomor. 2 Desember 2005

Mujiburrahaman. (2015). Perkembangan Panglima Laôt dan Peranannya dalam Kehidupan Masyarakat Nelayan di Kecamatan Kembang Tanjong

Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh (19902007).

Tesis pada Jurusan Ilmu Sejarah Pasca Sarjana Universitas Diponegoro, Semarang Perda No 7 Tahun 2000 Soekanto, S. (1987). Memperkenalkan Sosiologi dalam sosiologi suatu

pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

Stephanie, K Marrus. (2002). “Building The Strategic Plan: Find Analyze, And Present The Right Information” Wiley. USA: 2002.

Syarif, Sanusi M. (2003). Riwang U Laot:Leun Pukat dan Panglima Laot dalam Kehidupan Nelayan di Aceh. Banda Aceh: Yayasan Rumpun Bambu dan CSSP.

Suhaidy, M. Saleh. (2007). Buku Pegangan Teungku Imeum Meunasah, Banda Aceh: Dinas Syari'at Islam Provinsi NAD.

Suroyo, A.M. Djuliati, etal. (2013). Sejarah Maritim Indonesia 1: Menelusuri Jiwa Bahari Bangsa Indonesia Hingga Abad ke 17”. Semarang: Jeda. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.