STRATEGI PENGENTASAN KEMISKINAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ACEH MELALUI PRAKTEK ADAT MAWAH (BAGI HASIL USAHA) DI KECAMATAN KUTA BARO

Nelly Nelly, Rahmi Rahmi

Abstract


Praktek mawah telah dilakukan di Aceh sejak abad ke-16, praktek ini terus berlangsung sampai
dengan sekarang. Praktek adat Mawah ini sangat popular di Aceh sehingga dengan adanya praktek
adat Mawah ini banyak membantu kehidupan para masyarakat miskin. Penelitian ini bertujuan
Melahirkan suatu model pelaksanaan praktek adat mawah di Kecamatan Kuta Baro Kabupaten Aceh
Besar. Dan Menghasilkan suatu strategi pengentasan kemiskinan berbasis kearifan lokal masyarakat
melalui praktek adat mawah Kecamatan kuta Baro Kabupaten Aceh Besar. Lokasi penelitian ini di
Kecamatan Kuta Baro Kabupaten Aceh Besar, dengan populasi masyarakat yang ada di 5 (lima)
wilayah mukim. Jumlah sampel penelitian ini adalah 5 (lima) desa yang mewakili masing-masing
mukim. Yaitu; desa Cot Preh yang terdapat dimukim Lam Rabo, desa Lam Alue Cut yang terdapat di
mukim Leupung, desa Lam Seunong yang terdapat di mukim Lam Blang, desa Supeu yang terdapat di
mukim Bueng Cala, desa Lam Asan yang terdapat di mukim Ateuk. Pengolahan data yang terkumpul
akan diolah dengan pendekatan “Trianggulasi’, yaitu lebih dari satu metoda, dengan pendekatan
metoda kuantitatif dan metoda kualitatif. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data
wawancara, observasi dan dokumentasi. Wilayah kecamatan Kuta Baro memiliki lahan yang sangat
luas, dan salah satu lahan yang sering digunakan oleh masyarakatnya adalah lahan sawah. Hasil padi
yang diperoleh oleh masyarakat di kecamatan Kuta Baro sangat baik, sehingga dapat menjadi sumber
penghasilan masyarakat. Cara mempraktekkan adat Mawah oleh penduduk kecamatan Kuta Baro
Aceh Besar adalah, dengan membuat satu perjanjian lisan dengan pemilik sawah, rasa saling percaya
menjadi modal dalam perjanjian, prinsip kejujuran menjadi dasar perjanjian. Hal ini sudah dilakukan
turun temurun. Perjanjian dimulai apablia musim tanam padi tiba yaitu dua bulan setelah pemotongan
padi dilakukan, maka para penggarap bersiap untuk menanam kembali dan perjanjian untuk praktek
Mawahpun dimulai. Model pelaksanaan praktek adat mawah yang dapat diterapkan di kecamatan
Kuta Baro adalah dengan melakukan perjanjian secara lisan yang didasari kepercayaan. Hal ini
sudah dilakukan secara turun temurun. Hasil wawancara dan observasi peneliti di lapangan
menjelaskan bahwa tidak pernah terjadi sengketa atau konflik selama praktek adat mawah ini
dilaksanakan. Yang menjadi strategi pengentasan kemiskinan berbasis kearifan lokal masyarakat
melalui praktek adat mawah di Kecamatan kuta Baro Kabupaten Aceh Besar adalah adanya lembaga
Bank dan Non Bank atau lembaga lain untuk membantu modal penggarap. Di lapangan menunjukkan
bahwa ada beberapa mukim seperti mukim Lam Rabo sudah ada perhatian dari unsur Desa dalam
peminjaman pupuk. Di kecamatan Kuta Baro praktek adat Mawah sangat membantu masyarakat
setempat dalam mencukupi kehidupannya sehari-hari.

 


Full Text:

PDF

References


Abdurrahman. 2014. Praktek mawah melalui mudharabah dalam masyarakat Aceh,Banda Aceh: UIN Ar-Ranniry

Anton, M. Moeliono. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Depdikbud Balai

Pustaka, Anton, M. Moeliono. 1990.Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Depdikbud Balai Pustaka, Jakarta.

Ataupah. 2004. Peluang Pemberdayaan Keraifan Lokal Dalam Pembangunan Kehutanan. Kupang: Dephut Press.

Damanhur dan Muammar Khaddafi, 2013. Konsep Mawah dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat di Kabupaten Aceh Utara, Journal Economic Management dan Bussiness, Vol. 14 No. 4 Tahun 2013.

Edi Marsudi. 2011. Identifikasi Sistem Kerjasama Petani dan Penggarap dan Pemilik Tanah dalam Kaitannya dengan Pemerataan Pendapatan Petani Sawah Beririgasi (Studi TerhadapKelembagaan Petani pada Wilayah Jaringan Sekunder Irigasai Daya Daboh dan Lamcot Kabupaten Aceh Besar). Jurnal Agrisep, Vol. 12 No. 12011.

Keraf, Sony, 2006. Etika Lingkungan . Kompas, Jakarta

Kuncoro, Mudrajad. 2004. Otonomi Dan Pembangunan Daerah: Reformasi,Perencanaan, Strategi, dan Peluang.Jakarta: Erlangga.

Nababan, A. 2003. Pengelolaan Sumberdaya Alam Berbasis Masyarakat Adat.Makalah.http://dte.gn.apc.org/AMAN/Puplikasi. Didownlod, tgl.16.4.2016.

Nababan, 1995. Kearifan Tradisional dan Pelestarian Lingkungan Di Indonesia.Jurnal Analisis CSIS : Kebudayaan,

Kearifan Tradisional dan Pelestarian Lingkungan. Tahun XXIV No. 6

Tahun 1995

Sahdan. G. 2005. Menanggulangi Kemiskinan Desa. Artikel Ekonomi Rakyat Dan Kemiskinan dalam Jurnal Ekonomi

Rakyat (Maret 2005).http://ekonomirakyat.org/edisiMaret2005/artikel 4.htm (02/5/2016).

Soegijoko. Budhy Tjahjati et al. 1997. Bunga Rampai Perencanaan Pembangunan di Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana

Sibarani, Robert. 2012. Pendekatan Antropolinguistik Dalam Menggali

Kearifan Lokal Sebagai Identitas Bangsa. Prosiding The 5 International Conference on Indonesian Studies: “Ethnicity anGlobalization”. Medan: UniversitSumatera Utara.

Yulianto, T. 2005. Fenomena Program Program Pengentasan Kemiskinan DKabupaten Klaten (Studi Kasus DesJotangan Kecamatan Bayat). TesiProgram Pascasarjana Magister TekniPembangunan Wilayah dan KotUniversitas Diponegoro. SemarangTidak Dipublikasikan.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000

tentang Propenas


Refbacks

  • There are currently no refbacks.